Image of Serat Sukma Jala

Text

Serat Sukma Jala



Naskah Kidung Sukma Jala pada awal naskah mendeskripsikan terkait solat wajib dan solat sunah dan dampaknya bagi yang menjalankan secara tumakninah dan rutin di awal waktu. Tuntunan tentang solat tersebut dari halaman pertama naskah hingga halaman 54. Pada halaman 54 menceritakan silsilah kenabian dari Nabi Adam alahisalam sampai pada silsilah Hasan Husen. Halaman 55 menceritakan silsilah wali tanah Jawa yang tersambung dengan Syeh Jumadil Kubra yang makamnya berada di Terboyo. Pada halaman 56 menceritakan silsilah Mbah Hasan Munadi yang secara ilmu tersambung dengan Sunan Kudus (Guru). Menurut narasi dalam naskah sukma Jala Secara keilmuan Hasan Munadi tersambung dengan para wali dan alim ulama tanah Jawa sedangkan secara trah tersambung dengan ningrat dari keraton Mataram beberapa nama yang disebut dalam naskah yakni Ki Pemanahan, Tumenggung Kajoran. Pada halaman 58 merupakan inti dari ajaran Kidung Sukma Jala. Dalam naskah di uraikan bahwa wirid Sukma Jala jika dilakukan secara istikomah akan menjadikan yang melakukan bisa menjadi insan kamil (ngerti sakdurunge winarah) mengetahui apa yang akan terjadi. Tetapi hal tersebut harus di lakukan dengan dasar taqwa dalam pranata agama Islam. Dalam menjalani laku harus juga jangan meninggalkan kuwajiban manusia sebagai hamba yakni menjalankan solat lima waktu berikut sunahnya. Tanpa didasari dengan itu semua niscaya akan menjadikan orang sombong dan lupa diri. Kidung Sukma Jala pada halaman 59-62 menguraikan bagaimana menerapkan wirid tersebut dalam laku prihatin orang Jawa. Tahapan yang harus dilakukan dalam tawasul hingga menjalani secara rutin dan menghindari semua larangan yang sebagaimana digariskan oleh agama islam yakni Ma Lima. Pada halaman 63 sampai halaman 90 mendeskripsikan terkait Isra Mikraj Baginda Nabi Muhammad S.A.W. dari awal hingga kembali lagi ke bumi. Pada naskah ini juga tersirat bahwa jika seseorang mengamalkan apa yang menjadi ajaran Hasan Munadi yang diwarisi oleh murid muridnya dengan baik maka kelak ia akan menjadi insan kamil (ngerti sadurunge winarah) dalam pemahaman Islam Jawa menjadi wali yang mengetahui sesuatu yang akan terjadi sebagaimana Nabi yang mampu mengetahui apa yang akan terjadi atas ummat dan generasi berikutnya melalui isra mikraj


Ketersediaan

Tidak ada salinan data


Informasi Detail

Judul Seri
Naskah Jawa Klasik
No. Panggil
-
Penerbit : .,
Deskripsi Fisik
Ukuran Naskah: Panjang 30 Cm dan Lebar 20 Cm
Bahasa
Jawa
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
NONE
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
-
Info Detail Spesifik
Pada halaman 58 ini sangat penting dari isi naskah Kidung Sukma Jala. Uraian terkait wirid sukmajala di sampaikan dalam bentuk cakra melingkar pada naskah dengan pembuka sebagai berikut “Sukma cilik weruh sadrunge winarah yaiku siliwunga ga’ib diarani kena makmur yaiku sineta gaib tulise alus surupe wadahe kang khaq.” marani kiyamara, mangraja rajamaya, wasuda sadumaya, miduru durumaya, dayani niyudaya, siyara rayasiya, miyawa mawasiya. Sekilas wirid ini sama dengan rajah kalacakra peninggalan Sunan Kudus. Jika rajah kalacakra di awal selalu ada kata Ya, tetapi pada naskah ini tidak di temukan hal tersebut. Ajaran Kidung Sukma Jala digunakan untuk wirid selama 41 hari dan setiap hari 222 kali di baca bakda solat fardu
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain


Lampiran Berkas



Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaDetail XMLKutip ini